<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
		>
<channel>
	<title>Comments on: Kisah Tsa&#8217;labah by Aa Gym</title>
	<atom:link href="http://syarifhidayat.net/kisah-tsalabah-by-aa-gym.html/feed" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://syarifhidayat.net/kisah-tsalabah-by-aa-gym.html</link>
	<description>Seek for the truth</description>
	<lastBuildDate>Tue, 13 Jul 2010 08:02:30 +0700</lastBuildDate>
	<generator>http://wordpress.org/?v=2.9</generator>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
		<item>
		<title>By: fernando</title>
		<link>http://syarifhidayat.net/kisah-tsalabah-by-aa-gym.html/comment-page-1#comment-302</link>
		<dc:creator>fernando</dc:creator>
		<pubDate>Fri, 14 May 2010 07:05:36 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://syarifhidayat.net/?p=160#comment-302</guid>
		<description>Juga Syarif Hidayat thanx.</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Juga Syarif Hidayat thanx.</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: fernando</title>
		<link>http://syarifhidayat.net/kisah-tsalabah-by-aa-gym.html/comment-page-1#comment-301</link>
		<dc:creator>fernando</dc:creator>
		<pubDate>Fri, 14 May 2010 06:56:09 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://syarifhidayat.net/?p=160#comment-301</guid>
		<description>@ mas Taufik : izin sharenya yah. makasih.</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>@ mas Taufik : izin sharenya yah. makasih.</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: Syarif Hidayat</title>
		<link>http://syarifhidayat.net/kisah-tsalabah-by-aa-gym.html/comment-page-1#comment-133</link>
		<dc:creator>Syarif Hidayat</dc:creator>
		<pubDate>Mon, 01 Mar 2010 19:47:18 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://syarifhidayat.net/?p=160#comment-133</guid>
		<description>Jazakallahu khoir atas penjelasan Pak Taufiq. InsyaAllah hari ini saya akan menambahkan informasi ini pada bagian awal artikel ini agar pembaca lain bisa terhindar kejahatan menjelek-jelekkan sahabat.</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Jazakallahu khoir atas penjelasan Pak Taufiq. InsyaAllah hari ini saya akan menambahkan informasi ini pada bagian awal artikel ini agar pembaca lain bisa terhindar kejahatan menjelek-jelekkan sahabat.</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: Taufiq</title>
		<link>http://syarifhidayat.net/kisah-tsalabah-by-aa-gym.html/comment-page-1#comment-132</link>
		<dc:creator>Taufiq</dc:creator>
		<pubDate>Mon, 01 Mar 2010 07:53:24 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://syarifhidayat.net/?p=160#comment-132</guid>
		<description>Secara umum, saya lebih sependapat dengan para ulama dan ustadz yang melemahkan hadits yang memuat kisah ini. Selain dari sisi sanad yang lemah, dari sisi matan (isi) hadits ini bertentangan dengan banyak ayat-ayat Al-Qur&#039;an dan hadits lain yang shahih.

Berikut adalah koreksi terhadap hadits yang memuat kisah ini:

&lt;b&gt;Dari sisi sanad&lt;/b&gt;: Hadits ini lemah (dho&#039;if).
Para ulama yang melemahkan hadits ini:
[1]. Imam Ibnu Hazm, ia berkata: “Riwayat ini bathil.” [l-Muhalla (XI/207-208).]
[2]. Al-hafizh al-’Iraqy berkata: “Riwayat ini dha’if.” [Lihat Takrij Ahaadits Ihya’ Ulumuddin (III/287).]
[3]. Al-Hafizh Ibnu Hajar al-Asqalany berkata: “Riwayat tersebut dha’if dan tidak boleh dijadikan hujjah.” [Lihat Fat-hul Baari (III/266)]
[4]. Ibnu Hamzah menukil perkataan Baihaqi: “(Riwayat ini) dha’if.” [Lihat al-Bayan wat Ta’rif (III/66-67)]
[5]. Al-Munawi berkata: “(Riwayat ini) dha’if.” [Lihat Fai-dhul Qadir (IV/527).]
[6]. Syaikh Muhammad Nashiruddin al-Albany berkata: “Hadits ini dha’ifun jiddan.” [Lihat Silsilatul Ahaadits adh-Dha’ifah wal Maudhu’ah (IX/78 no. 4081)]


Adapun kelemahannya: di dalamnya terdapat dua ‘illat (penyakit).
[1]. Mu’aan bin Rifa’ah As-Salaamiy, seorang rawi yang lemah/dla’if di dalam periwayatan hadits. Berkata Al-Hafidz Ibnu Hajar di Taqrib-nya, “Layyinul hadits katsirul irsaal (orang yang lemah haditsnya dan sering memursalkan hadits)”.

[2]. Ali bin Yazid bin Abi Ziyad Al-Alhaaniy Abu Abdul Malik Ad-Dimasyqiy. Berkata Al-Hafidz di Taqrib-nya, “Dla’if” Berkata Bukhari, “Munkarul hadits”. Berkata An-Nasa’i, “Laisa bi tsiqatin (bukan orang yang tsiqah)”. Berkata Daruquthni, “Matruk”. Dn lain-lain [Mizanul I’tidal Juz 3 hal.161]

&lt;b&gt;Dari sisi matan&lt;/b&gt;: Hadits bathil.
Menurut Ustadz Abdul Hakim bin Amir Abdat, hadits ini bathil ditinjau dari beberapa alasan:
Pertama : Tsa’labah bin Haathib Al-Anshariy seorang Shahabat yang ikut di dalam perang Badar. Sedangkan orang yang ikut perang Badar telah ditegaskan oleh Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak akan masuk neraka sebagaimana diterangkan oleh Al-Hafidz Ibnu Hajar di kitabnya Al-Ishaabah fi Tamyiz Ash-Shahabah Juz 1 hal. 198 dengan menurunkan sebuah hadits shahih.

Kedua : Tidak dijumpai dari seorangpun Shahabat yang tamak terhadap dunia, kikir dan tidak mau mengeluarkan zakat sebagaimana riwayat di atas apalagi dari seorang Shahabat yang pernah ikut di dalam perang Badar.

Ketiga : Hadits dla’if di atas jelas-jelas telah menyalahi sirah (perjalanan) para Shahabat yang mulia yang telah mendapat keridlaan Rabbul Alamin

Keempat : Sebaliknya, mereka berlomba-lomba menginfakan harta-harta mereka fi sabilillah.

Kelima : Kebatilan dan kejanggalan hadits diatas akan bertambah jelas apabila kita melihat bahwa Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam ‘tidak mau’ menerima taubatnya. Padahal Allah Azza wa Jalla Maha Pengampun dan Maha Menerima Taubat sebagaimana firman-Nya di banyak ayat di dalam Al-Qur’an. Demikian juga sabda-sabda beliau Shallallahu ‘alaihi wa salam yang suci yang menjelaskan bahwa Allah Maha Pengampun dan Maha Menerima Taubat hamba-hamba-Nya yang berdosa hatta si kafir dan si musyrik dan munafiq. Mimbaabil aula (lebih utama lagi) dari seorang muslim yang berdosa hatta dosa yang paling besar yaitu syirik kalau dia bertaubat sebelum matinya, niscaya dia dapati bahwa Allah Maha Pengampun dan Maha Menerima Taubat.</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Secara umum, saya lebih sependapat dengan para ulama dan ustadz yang melemahkan hadits yang memuat kisah ini. Selain dari sisi sanad yang lemah, dari sisi matan (isi) hadits ini bertentangan dengan banyak ayat-ayat Al-Qur&#8217;an dan hadits lain yang shahih.</p>
<p>Berikut adalah koreksi terhadap hadits yang memuat kisah ini:</p>
<p><b>Dari sisi sanad</b>: Hadits ini lemah (dho&#8217;if).<br />
Para ulama yang melemahkan hadits ini:<br />
[1]. Imam Ibnu Hazm, ia berkata: “Riwayat ini bathil.” [l-Muhalla (XI/207-208).]<br />
[2]. Al-hafizh al-’Iraqy berkata: “Riwayat ini dha’if.” [Lihat Takrij Ahaadits Ihya’ Ulumuddin (III/287).]<br />
[3]. Al-Hafizh Ibnu Hajar al-Asqalany berkata: “Riwayat tersebut dha’if dan tidak boleh dijadikan hujjah.” [Lihat Fat-hul Baari (III/266)]<br />
[4]. Ibnu Hamzah menukil perkataan Baihaqi: “(Riwayat ini) dha’if.” [Lihat al-Bayan wat Ta’rif (III/66-67)]<br />
[5]. Al-Munawi berkata: “(Riwayat ini) dha’if.” [Lihat Fai-dhul Qadir (IV/527).]<br />
[6]. Syaikh Muhammad Nashiruddin al-Albany berkata: “Hadits ini dha’ifun jiddan.” [Lihat Silsilatul Ahaadits adh-Dha’ifah wal Maudhu’ah (IX/78 no. 4081)]</p>
<p>Adapun kelemahannya: di dalamnya terdapat dua ‘illat (penyakit).<br />
[1]. Mu’aan bin Rifa’ah As-Salaamiy, seorang rawi yang lemah/dla’if di dalam periwayatan hadits. Berkata Al-Hafidz Ibnu Hajar di Taqrib-nya, “Layyinul hadits katsirul irsaal (orang yang lemah haditsnya dan sering memursalkan hadits)”.</p>
<p>[2]. Ali bin Yazid bin Abi Ziyad Al-Alhaaniy Abu Abdul Malik Ad-Dimasyqiy. Berkata Al-Hafidz di Taqrib-nya, “Dla’if” Berkata Bukhari, “Munkarul hadits”. Berkata An-Nasa’i, “Laisa bi tsiqatin (bukan orang yang tsiqah)”. Berkata Daruquthni, “Matruk”. Dn lain-lain [Mizanul I’tidal Juz 3 hal.161]</p>
<p><b>Dari sisi matan</b>: Hadits bathil.<br />
Menurut Ustadz Abdul Hakim bin Amir Abdat, hadits ini bathil ditinjau dari beberapa alasan:<br />
Pertama : Tsa’labah bin Haathib Al-Anshariy seorang Shahabat yang ikut di dalam perang Badar. Sedangkan orang yang ikut perang Badar telah ditegaskan oleh Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak akan masuk neraka sebagaimana diterangkan oleh Al-Hafidz Ibnu Hajar di kitabnya Al-Ishaabah fi Tamyiz Ash-Shahabah Juz 1 hal. 198 dengan menurunkan sebuah hadits shahih.</p>
<p>Kedua : Tidak dijumpai dari seorangpun Shahabat yang tamak terhadap dunia, kikir dan tidak mau mengeluarkan zakat sebagaimana riwayat di atas apalagi dari seorang Shahabat yang pernah ikut di dalam perang Badar.</p>
<p>Ketiga : Hadits dla’if di atas jelas-jelas telah menyalahi sirah (perjalanan) para Shahabat yang mulia yang telah mendapat keridlaan Rabbul Alamin</p>
<p>Keempat : Sebaliknya, mereka berlomba-lomba menginfakan harta-harta mereka fi sabilillah.</p>
<p>Kelima : Kebatilan dan kejanggalan hadits diatas akan bertambah jelas apabila kita melihat bahwa Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam ‘tidak mau’ menerima taubatnya. Padahal Allah Azza wa Jalla Maha Pengampun dan Maha Menerima Taubat sebagaimana firman-Nya di banyak ayat di dalam Al-Qur’an. Demikian juga sabda-sabda beliau Shallallahu ‘alaihi wa salam yang suci yang menjelaskan bahwa Allah Maha Pengampun dan Maha Menerima Taubat hamba-hamba-Nya yang berdosa hatta si kafir dan si musyrik dan munafiq. Mimbaabil aula (lebih utama lagi) dari seorang muslim yang berdosa hatta dosa yang paling besar yaitu syirik kalau dia bertaubat sebelum matinya, niscaya dia dapati bahwa Allah Maha Pengampun dan Maha Menerima Taubat.</p>
]]></content:encoded>
	</item>
</channel>
</rss>

<!-- www.000webhost.com Analytics Code -->
<script type="text/javascript" src="http://analytics.hosting24.com/count.php"></script>
<noscript><a href="http://www.hosting24.com/"><img src="http://analytics.hosting24.com/count.php" alt="web hosting" /></a></noscript>
<!-- End Of Analytics Code -->
