Islam mensyaratkan dua hal agar suatu amal diterima. Yang pertama niat dan yang kedua sesuai tuntunan. Seringkali orang mengesampingkan syarat yang kedua ini. Katanya, “yang penting niatnya baik”. Sehingga berujung pada sikap “sok tahu” terhadap apa yang disukai/diridloi Allah.
Berikut sedikit ilustrasi yang mungkin bisa membantu pemahaman ini.
Memberi makan orang lain adalah perbuatan baik. Oleh karena itu Budi hendak memberi makan kepada Adi. Namun sayangnya, Budi tidak mengkomunikasikan hal ini dengan Adu. Adi sudah makan, sehingga “kebaikan” Budi menjadi sia-sia atau bahkan malah menyakiti Adi.
Begitupun dalam hal beragama. Masalahnya menjadi jauh lebih kompleks karena Allah adalah Dzat gaib yang tidak kita kenal jika tidak memperkenalkan diri-Nya. Beberapa cara yang digunakan untuk mengenal Allah adalah dengan membaca Al Quran, Hadits dan juga Ijtihad para Shahabat yang sudah dijamin masuk surga.
Beberapa cara lain yang juga digunakan adalah “membaca” alam semesta atau menggunakan ijtihad para ulama masa kini. Masalahnya dengan metode pertama adalah multi-tafsir, tergantung dari persepsi yang dimiliki. Sedangkan masalah pada metode yang kedua adalah, ulama masa kini tidak “memiliki” Rasulullah yang langsung menegur jika ijtihad mereka salah.
Dua paragraph diatas dijelaskan tidak untuk melihat yang ini salah yang itu benar. Hal tersebut lebih untuk menjelaskan prioritas yang digunakan untuk “mengenal Allah”. Urutannya, Al Quran, Hadits, Ijtihad shahabat, ijma’ para ulama, baru logika/tadabur alam.
Beberapa saat yang lalu ada yang “bingung” dengan istilah bid’ah. Definisi bid’ah adalah sesuatu yang “baru” dalam beragama. Dikatakan baru bukan berarti tambahan dalam agama yang tidak dilakukan Rasulullah SAW. Suatu “tambahan” yang dilakukan para shahabat yang sudah dijamin masuk surga tidak dianggap “tambahan” atau bid’ah.
Setiap bid’ah adalah kesesatan, dan setiap kesesatan tempatnya adalah neraka. Bid’ah ini adalah salah satu bentuk sikap “sok tau”-nya manusia yang berkaitan dengan masalah Ibadah. Hukum asal setiap ibadah adalah haram. Maka SELAIN YANG DITUNTUNKAN adalah HARAM. Bid’ah adalah sebuah dosa yang sangat besar dan sangat berbahaya karena pelakunya merasa dirinya sedang melakukan kebaikan. Lain halnya dengan membunuh atau mencuri yang meninggalkan rasa bersalah pada diri pelakunya. Tanpa disadari pelaku bid’ah telah melakukan fitnah kepada Rasulullah SAW bahwa beliau tidak TABLIGH. Menuduh beliau menyembuyikan suatu amalan yang bisa dilakukan ummat untuk mendekatkan diri pada Allah. Yang paling celaka, pelaku bid’ah merasa sedang melakukan amal baik dan men”dakwah”kannya. Na’udzubillaah.
Wallaahu’alam bisshawab.
Popularity: 3% [?]
No related posts.